Ternyata hamil

cerita kecil wisnu dan wanda


Seperti biasanya, suasana Kompleks Permata Indah di pagi hari yang cerah itu sudah diawali dengan keributan. Wisnu terbangun pukul tujuh pagi dalam balutan kaos putih dan sarung bermotif tenun berwarna cokelat gelap. Tanpa membuang waktu, ia langsung pergi menyapu halaman depan yang seharusnya sudah disapu sejak kemarin. Tidak lupa, ia menyapa Pak Solihin yang sedang menuntaskan target lima ribu langkah per hari agar sendinya tidak kaku dimakan usia. Berselang dua menit setelahnya, Hasan, si kucing kompleks, lewat dan tidak lupa hampir menggulingkan pot tanaman Wanda di depan pagar. Menyusul Hasan, Sherina dan Kenzo datang berlarian saling mengejar—atau mungkin mereka mengejar Hasan.

Selesai menyapu halaman, Wisnu masuk ke dalam rumah. Niatnya, ia hendak bersiap untuk pergi kerja bakti membersihkan lapangan dari dedaunan dan ranting yang berasal dari pohon yang ditanam oleh Ko Mamat (kalau malam Matthew). Namun, rencananya berubah ketika Wanda keluar dari kamar mandi dengan raut tidak nyaman dan tidak senang. Wisnu khawatir, karena biasanya ialah penyebab raut tidak senang itu. Ia mengingat-ingat apa yang kira-kira sudah ia perbuat—atau seharusnya ia perbuat tapi lupa. Wisnu gagal mengingat dan akhirnya bersikap lupa sepenuhnya sambil berharap Wanda juga lupa tentang apa pun itu.

Wisnu mendekati istrinya itu dan bernapas lega karena tidak melihat tanda-tanda amarah pada wajahnya. Hari ini ia selamat.

Sambil menutup mulutnya, Wanda berkata, “Mas, kok aku mual dan muntah-muntah ya…”

Keduanya terdiam sesaat untuk memikirkan jawaban. Wanda terbilang memiliki imun tubuh yang kuat sehingga jarang terkena penyakit yang mengkhawatirkan.

“Masuk angin, Nda?” tebak Wisnu. Wanda menggeleng.

“Biasanya nggak sampai separah ini,” bantah Wanda. “Apa aku salah makan ya?”

Keduanya berpikir lagi, mengingat-ingat makanan apa yang berpotensi menjadi pelakunya. Karena belakangan ini marak diberitakan musibah keracunan M, spontan Wisnu pun memikirkan hal yang sama. Jangan-jangan Wanda mengalami gejala keracunan makanan—bukan dari M.

“Jangan-jangan keracunan makanan, Nda,” ucap Wisnu cemas. Karena Wanda juga sering melihat berita anak-anak keracunan M**, ia pun merasa bahwa itu adalah asumsi yang masuk akal.

“Bisa jadi sih,” angguknya. “Tapi keracunan apa, Mas?”

Keduanya berpikir untuk yang ketiga kalinya. Kali ini, mereka mengingat-ingat makanan yang terakhir dimakan dalam satu hari terakhir. Selain masakannya sendiri, Wanda hanya memakan takjil yang dibeli dari Dapur Jul x Ciumbuleuit (@dapurjul & @ciumbuleuit, WA 085817171313). Sebagai pasangan suami istri, kadang keduanya bisa bertukar pikiran tanpa perlu saling bicara (bukan karena punya kemampuan telepati). Lewat mata yang bertemu, mereka berkomunikasi tanpa suara. Kurang lebih seperti ini percakapan mental mereka:

Takjil Ko Jul?

Ah nggak mungkin, Mas

Iya ya, masa mereka ngeracunin kita

Khawatir gejala yang dialami Wanda semakin parah, Wisnu memutuskan untuk absen dari kegiatan kerja bakti. Tidak lupa, ia memberi kabar ke grup 3M (makan, minum, main futsal). Semuanya ikut khawatir. Lalu, karena mungkin sering menonton berita keracunan M** juga, Satria menyinggung isu keracunan makanan yang langsung ditanggapi oleh anggota grup yang lain. Wanda kembali ke kamar mandi karena merasa ingin muntah.

Sementara Wanda muntah-muntah, Wisnu sibuk berdiskusi dengan anggota grup soal kemungkinan istrinya keracunan takjil buatan Julian dan Dika yang konon katanya bisa menjadi penyebabnya. Kecurigaan bertambah karena Sherina, sang tuan putri kompleks, juga dikabarkan muntah-muntah. Sebelum obrolan menjadi gosip yang tersebar ke seluruh penjuru kompleks, Joseph selaku dokter setempat mengusulkan agar Wanda segera dibawa ke klinik saja agar penyebabnya bisa dicari tahu dengan jelas.

Sementara anggota grup sedang sibuk mencurigai Julian dan Dika, Wisnu dan Wanda berangkat ke klinik kesehatan terdekat dengan menaiki motor matik yang bernama Maximus.

“Selain mual, muntah, dan pusing, ada keluhan apa lagi?”

Wisnu dan Wanda sudah berada di klinik. Lebih tepatnya lagi di dalam ruangan salah satu dokter umum di sana. Pak Dokter bertanya dengan tangan yang siap mencatat. Wanda berpikir sebentar lalu menggeleng.

“Nggak ada, Dok.”

Pak Dokter merenung sebentar. Wanda bingung. Wisnu tersenyum canggung.

Menurut Pak Dokter, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Wanda mengalami keracunan makanan hanya dari gejala yang disebutkan. Mual dan muntah bisa disebabkan oleh banyak hal. Contohnya: kekenyangan, tersedak, penumpukan gas, makanan tidak enak, mabuk perjalanan, dan bau tidak sedap. Lalu sakit kepala bisa disebabkan oleh: migrain, anemia, kelelahan, telat makan, cuaca panas atau terik matahari, benturan, beban pekerjaan, kemiskinan, menanggapi lawakan Wisnu, dan melihat Saip—Steven. Selain itu, di bulan puasa ini cukup umum ditemukan orang yang mengalami gejala serupa; mual, muntah, dan sakit kepala karena maag. Setelah diperiksa lebih jauh, Wanda tidak memiliki riwayat maag. Tekanan darah dan gulanya pun normal.

Akhirnya, Pak Dokter memutuskan untuk mengoper Wanda pada Bu Dokter.

“Kita coba USG ya,” kata Pak Dokter pada akhirnya.

Wisnu dan Wanda saling bertatapan ketika diminta untuk pindah ke poli Kesehatan Ibu dan Anak. Walaupun sudah menikah selama dua tahun, keduanya belum memutuskan untuk mengikuti program kehamilan. Karena itu, keduanya tidak memiliki ekspektasi yang merujuk pada kehamilan. Bahkan topik itu sendiri baru terpikirkan setelah keduanya diminta pindah poli tadi.

“Aku jadi gugup, Mas,” kata Wanda sambil memegang lengan Wisnu. Laki-laki itu tersenyum tenang sambil mengusap-usap tangan sang istri.

“Nggak apa-apa. Berdoa yang baik-baik aja ya,” ucapnya menenangkan. “Berdoa semoga aja takjilnya Ko Jul sama Dika nggak beracun. Enak soalnya… sayang kalau harus berhenti jualan.”

Wanda melepaskan tangan Wisnu karena sedikit kesal.

Di ruangan Bu Dokter, Wanda diminta berbaring di atas ranjang untuk prosedur USG, setelah sebelumnya diberikan pertanyaan-pertanyaan dasar. Wanda menghembuskan napas gugup begitu alat USG menyentuh kulitnya. Wisnu mengenggam satu tangan Wanda sambil diam-diam gugup juga. Bu Dokter pun sedikit gugup karena katanya ini hari pertama beliau bekerja di klinik tersebut. Ketegangan bertahan di udara sampai akhirnya Bu Dokter bersuara.

“Nah, kan, mualnya karena ini…” gumam Bu Dokter sambil menatap layar. Setelah merasa yakin, beliau menoleh pada pasangan suami istri itu. Wajahnya terlihat lega dan sumringah. “Selamat ya, Ibu, Bapak. Ibu Wanda sedang mengandung. Usia kandungannya lima minggu. Janin dan ibunya sehat, nggak keracunan takjil.”

Wanda menutup mulutnya, tidak percaya, sambil menatap layar baik-baik. Wisnu tertular sumringah-nya Bu Dokter. Takjil buatan Julian dan Dika tidak beracun.

“Oh, ternyata… hamil,” ucapnya sambil nyengir.

Wanda yang baru hendak terharu jadi berdecak sambil menggelengkan kepala.

“Bersyukur, Mas! Bukan oh ternyata!” protesnya.

“Eh iya…” Cengiran Wisnu melebar. “Alhamdulillah, hamil.”

Cengiran Wisnu bertahan sepanjang perjalanan pulang.

Hari itu, Wanda memeluk Wisnu sepanjang perjalanan pulang. Matanya tidak bisa berhenti berkaca-kaca. Bahagianya tidak terbendung atas kabar yang baru mereka dapatkan. Ia tidak sabar untuk menyimpan foto USG pertama anak mereka ke dalam figura. Sedangkan Wisnu tidak bisa berhenti berandai-andai.

“Nanti kalau anak kita udah besar—”

“LAHIR JUGA BELUM, MAS!”

Di sisi lain, ada Julian dan Dika yang ikut bahagia karena lapak takjil mereka tidak jadi terancam tutup (padahal dua hari lagi pun tetap akan tutup karena bulan puasa sudah berakhir).